Semesta Kata – Sebuah unggahan di TikTok tiba-tiba mencuri perhatian saya. Unggahan ada di akun @zahrathiya30. Isinya bukan jualan produk, bukan pula video joget-joget viral.
Dalam unggahan tujuh buah foto itu, Zahra (kita sebut saja begitu, sesuai nama akunnya) curhat mengenai pengalamannya tinggal di desa atau di kampung.
Bagi orang kota, tinggal di desa bisa menjadi impian. Tapi tidak untuk Zahra. Baginya, tinggal di desa adalah mimpi buruk.
“Setrauma apa kamu pernah tinggal dikampung???” tulis Zahra di slide pertama unggahannya
Ia menceritakan, banyak hal tak mengenakkan ketika dirinya tinggal di kampung. Bukan soal suasana, tapi lebih ke perlakuan orang-orang di sekitar kepadanya.
Seperti suka ngomongin kejelekan orang lain (gibah), nyinyir terhadap pencapaian orang lain, suka pinjam uang sampai orang tua disana yang gila hormat.
“Kalo mau lewat jalanan mereka harus izin ke semua tetangga, cuma karena gw pendatang. Kebayang gak, mau ke warung aja harus izin satu rumah ke satu rumah,” tulisnya dengan nada ketus.
Zahra juga bercerita tentang perilaku tetangga-tetangganya, yang menurutnya kurang sopan, yakni kebiasaan langsung masuk ke rumah, tanpa mengetuk pintu atau mengucapkan salam.
Dari sanalah Zahra mulai jaga jarak dengan tetangga-tetangganya. Ia lebih sering mengunci diri dan melakukan hal-hal yang ia sukai di rumah.
Tapi ternyata masalah tak selesai. Ketenangan yang dirasakan Zahra dalam rumah malah menjadi bahan gunjingan tetangganya.
Ia disebut sombong, malas bergaul dan beragam hal bernada negatif lainnya. Semua perasaan itu menumpuk dalam hati Zahra selama bertahun-tahun.
Akhirnya Zahra menyerah. ia dan suami serta anaknya memutuskan untuk pindah ke kota, meninggalkan semua beban psikologisnya di desa.
“Pokoknya gw trauma tinggal di kampung lagi. Udah hidup enak di kota bareng suami dan anak, tetangga ga ada yang ikut campur, mau gw didalem rumah mulu gak keluar-keluar, mau paket datang mulu tiap hari, gak ada yang komen,” tuturnya.
Membaca semua uraian Zahra di unggahannya, saya tekejut sambil berpikir. Semengerikan itukah kehidupan di desa atau di kampung?
Bukankah orang Indonesia dikenal ramah, suka menolong dan gemar bergotong royong? Unggahan Zahra seakan meruntuhkan semua nilai-nilai itu.
Sayangnya, Zahra tidak menyebut di kampung mana ia tinggal dan kapan. Mungkin ia sengaja tidak mengungkapnya, untuk menjaga nama baik kampung itu.
Kalau memang semua yang diutarakan Zahra benar, saya jadi dapat wawasan baru: ada sebagian orang, yang menilai hidup di kampung bukanlah pilihan yang tepat.
Tapi lagi-lagi saya belum sepenuhnya yakin. Saya lalu melihat ke kolom komentar, berharap anggapan itu tidak benar. Semoga hanya Zahra yang memiliki pengalaman itu.
Di kolom komentar, pendapat netizen terbelah. Ada yang senada dengan Zahra. Tapi ada juga yang menentangnya.
“HIDUP DI DESA = SLOW LIVING is preeettt pada waktunya. Omongan tetangga wuuuuu lebih hot dari pada matahari,” tulis salah satu netizen.
“Lingkungan perkotaan lebih worth it karena masyarakatnya mandiri & fokus urusan masing-masing,” timpal netizen lainnya.
“itu daerah mna, ko kyk berlebihan bgt… soalnya sya jg tinggal dikampung, kampung saya ada, kampung suami ada, tp orang nya care, malah skrg saya betah dikampung suami….,” sanggah seorang netizen.
“gw tinggal di kampung g kayak gitu juga jir,” timpal lainnya dengan singkat.
Saya jadi bertanya-tanya, apa iya ada orang desa seperti itu? Saya pribadi ragu. Agak naif kalau tiba-tiba kita mengeneralisir watak orang desa hanya karena pengalaman seorang Zahra.
Tapi ada satu hal yang mengganjal di pikiran saya. Jika memang perilaku warga kampung seperti itu, kemana para pemuka agama setempat?
Gibah, nyingir, iri, dengki adalah perbuatan tercela. Dalam konteks agama, semuanya masuk dalam kategori perbuatan yang dilarang. Orang yang mengerjakannya akan berdosa.
Kenapa tiba-tiba saya kepikiran dengan pemuka agama? Karena, setahu saya, dalam kehidupan di desa, pemuka agama atau ustad adalah orang yang disegani.
Ustad adalah orang yang terpandang, yang memiliki keilmuan agama yang tinggi, sehingga semua perkataannya akan diikuti.
Di kampung, biasanya banyak pondok pesantren atau majelis-majelis yang rutin menggelar pengajian dengan ceramah agama yang menyejukkan.
Tak jarang ustad di kampung yang masih memiliki hubungan keluarga dengan warga setempat. Ustad A merupakan bapak dari si anu, ustad B sepupu si anu. ustad C kakek si anu dan begitu seterusnya.
Dengan begitu bukankah seharusnya ustad atau ulama kampung bisa dengan mudah mengikis sifat-sifat buruk, seperti iri, dengki, suka gibah, warga kampung tersebut?
Jika kenyataannya sifat-sifat buruk itu masih ada, menurut saya, ini adalah kegagalan para pemuka agama setempat untuk memperbaiki moral dan akhlak warga disana.
Percuma ada pesantren, percuma diadakan pengajian tiap pekan, ceramah-ceramah agama menjadi tak ada gunanya.
Dalam kondisi tersebut, agama hanya sebatas simbol. Pengajian hanya menjadi rutinitas biasa. Nilai-nilai agama tidak melekat pada diri warganya.
Sungguh disayangkan. Pemuka agama yang seharusnya muncul sebagai penolong warga yang masih berkubang dosa, malah mandul, atau mungkin memilih untuk menutup mata.
Semoga anggapan saya ini salah.