Semesta Kata – Belakangan ini sebuah video ramai beredar di sejumlah platform media sosial. Video tersebut merekam peristiwa sejumlah warga di Purbalingga tengah menjarah ribuan telur ayam dari sebuah mobil pikap yang terguling.
Warga yang kebanyakan ibu-ibu dan bapak-bapak itu terlihat dengan santainya memungut telur-telur yang tumpah ruah ke badan jalan.
Mereka memilah satu per satu telur yang masih utuh dan memasukkannya ke dalam wadah yang telag mereka siapkan.
Ironis. Itu satu kata yang bisa saya ungkapkan ketika melihat video tersebut. Bukan hanya soal menjarah telur yang bikin saya geram.
Namun perbuatan itu mereka lakukan disaat sang sopir masih terjebak dalam kabin pikap yang terguling ke kanan.
Entah seperti apa kondisi si sopir di dalam mobil. Apakah sehat-sehat saja atau malah terluka akibat kecelakaan tersebut.
Tapi sebagai manusia yang waras, saya tentunya berpikir, seharusnya warga menyelamatkan sang sopir. Akan lebih baik setelah itu mereka ikut merapikan telur yang tercecer dan mengembalikannya ke tempat semula.
Tapi kenyataan yang terekam dalam video tak demikian. Warga malah asik mengambil telur-telur tersebut.
Apa sebenarnya yang terjadi? mengapa warga tersebut malah menjarah telur, bukannya menolong sang sopir?
Deretan pertanyaan itu langsung menggantung di kepala saya dan hingga kini belum mendapatkan jawabannya.
Setahu saya, orang Indonesia adalah tipikal orang-orang yang baik. Setidaknya itu yang ditanamkan pada benak saya sedari kecil lewat pelajaran di sekolah.
Orang Indonesia gemar menolong. Orang Indonesua gemar bergotong royong. Orang Indonesia ramah. Orang Indonesia begini. Orang Indonesia begitu, dan seterusnya.
Narasi yang sama juga kerap ditunjukkan lewat beragam media dan kesempatan. Misalnya lewat film, sinetron, iklan dan sejenisnya.
Semua anggapan itu seakan runtuh dengan munculnya video penjarahan telur di Purbalingga.
Memang, tidak semua orang Indonesia seperti itu. Peristiwa penjarahan telur di Purbalingga tentu tidak bisa dijadikan ukuran baik atau buruknya orang Indonesia.
Tapi kenyataannya ada orang Indonesia yang demikian. Apalagi peristiwa itu terjadi di wilayah pedesaan, yang masyarakatnya seringkali digambarkan lekat dengan nilai-nilai positif orang Indonesia yang saya tuliskan di atas.
Meski menganggu bikin jengkel, saya tidak mau terlalu dalam memikirkan peristiwa ini. Biarlah publik yang menilai.
Namun ada satu komentar netizen yang cukup menarik terkait video tersebut di salah satu akun media sosial.
“Di negeri ini cuma babi yang haram, yang lainnya halal,” begitu tulisnya.
Sejenak saya tersenyum tipis ketika membaca komentar tersebut. Lucu namun berbalut ironi.



