semestakata
  • Referensi
  • Alur
  • Buah Pikir
  • Referensi
  • Alur
  • Buah Pikir
semestakata
No Result
View All Result

Menjadi Food Vlogger

Menjadi food vlogger membutuhkan konsistensi agar mendapatkan penghasilan yang layak. Namun tak semua orang bisa melakukan itu.

by Langit Kembar
6 Februari 2026
Share on FacebookShare on Twitter

Semesta Kata – Tanboy Kun, Nex Carlos, Mgdalenaf, Dyodoran. Nama-nama itu dikenal sebagai food vlogger Indonesia.

Orang-orang yang gemar nonton YouTube, pasti tahu mereka. Minimal pernah lihat videonya meski cuma sekilas.

Para food vlogger adalah orang-orang yang mengulas beragam makanan, merekamnya dan lalu mengunggahnya di media sosial.

Sebenarnya tak hanya mengulas makanan, beberapa ada yang hanya merekam saat mereka makan dengan porsi yang tak biasa (istilahnya Mukbang), seperti Tanboy Kun.

Dari video yang diunggah di media sosial, mereka mendapatkan penghasilan dari adsense dan endorse.

Jumlah uang yang mereka dapat bisa mencapai jutaan bahkan miliaran rupiah. Karena itulah kini food vlogger telah menjadi profesi yang menjanjikan.

Uniknya, profesi ini tak memerlukan syarat pendidikan tertentu, tak perlu keahlian khusus (seperti haknya teknisi, mekanik atau dokter) dan tak perlu persyaratan usia seperti di perusahaan.

Yang diperlukan hanya rasa percaya diri untuk tampil di depan kamera, sedikit skill edit video dan tentunya selera makan yang tinggi.

Nampaknya profesi ini memang menyenangkan. Bayangkan, dari makan mereka bisa mendapatkan uang untuk kebutuhan sehari-hari.

Di saat semua orang berusaha bekerja keras mendapatkan uang agar bisa membeli makanan, food vlogger malah makan untuk mendapatkan uang.

Karena itulah saya pernah mencoba untuk menjadi food vlogger. Hal itu saya lakukan pada awal 2020, ketika pandemi Covid 19 melanda Indonesia.

Saat itu sebenarnya motivasi saya jadi food vlogger bukan karena uang, tapi lebih untuk mengisi waktu luang ketika saya dirumahkan gara-gara pandemi.

Saya juga menyadari, untuk mendapatkan uang dari YouTube perlu proses yang panjang. Tak bisa instan hanya dari 1 atau dua video. Proses itu juga dilalui oleh para food vlogger ternama.

Pandemi Covid 19 mampir di Indonesia pada Maret 2020. Dua bulan kemudian, tepatnya pada bulan Mei, perusahaan tempat saya bekerja memutuskan untuk merumahkan sebagian karyawannya.

Alhasil, saya banyak waktu senggang di rumah. Akhirnya, berbekal ponsel saya iseng-iseng main ke tempat warung nasi uduk dekar rumah.

“Bu, saya mau makan disini sambil direkam boleh gak?” tanya saya pada Ibu Minih, salah satu penjual nasi uduk di daerah Parung.

“Emang buat apa?” Bu Minih bertanya balik.

“Buat dibikin video trus dimasukin ke YouTube, biar makin banyak yang tahu nasi uduk ibu,” jelas saya.

Bu Minih tertawa. Saya anggap itu sebagai persetujuan darinya. Langsung saja saya arahkan kamera ponsel ke warungnya sambil cuap-cuap.

“Buat yang suka makan nasi uduk, boleh dicoba nih Nasi Uduk Ibu Minih di daerah Lebak Wangi, Parung, Kabupaten Bogor,” ucap saya sambil sedikit menahan malu karena diliatin orang-orang.

Lalu saya hampiri Bu Minih. Sambil memegang kamera, saya sedikit melakukan wawancara tentang usahanya. Sejak kapan dimulainya, kenapa memilih usaha ini sampai menu apa saja yang disajikan.

Setelah itu, saya rekam diri saya sambil menyantap sepiring nasi uduk, lengkap dengan telor dadar, bihun, tempe orek, sambal dan tahu goreng.

“Nasi uduknya enak banget, pulen dan wangi. Sambelnya mantap, apalagi gorengannya nih. Cocok banget buat sarapan,” kata saya.

Gak kerasa, sepiring nasi uduk ludes. Saya berbincang lagi sama Bu Minih, lalu membayar dan pulang.

Di rumah, saya edit video itu dengan aplikasi gratisan di ponsel. Beruntung saya bekerja di media televisi, jadi sedikit-sedikit tahu teknik presenting, wawancara, menulis skrip hingga edit video.

Setelah videonya siap, saya unggah videonya ke channel YouTube saya. Ketika mengunggah, saya tak berharap banyak.

Kalau yang nonton banyak syukur, kalau gak ada yang nonton yah biarin aja. Anggap aja iseng-iseng berhadiah di tengah kegabutan.

Beberapa hari kemudian, saya kembali mendatangi penjual makanan di dekat tempat saya tinggal. Saya kembali bikin video dan menunggahnya ke YouTube.

Begitu terus selama hampir setahun. Makanan yang saya ulas pun beragam. Mulai dari nasi uduk, nasi goreng, mie ayam, soto, martabak, roti bakar, sampai ketoprak.

Video saya makin banyak dan mulai dapat atensi dari netizen di kolom komentar. “Ada aja yang nonton video saya, hehe..,” begitu gumam dalam hati.

Komentar netizen beragam. Ada yang memberikan apresiasi terhadap video saya, bertanya lebih lanjut tentang makanan yang saya ulas hingga merekomendasikan tempat makan lainnya.

Ada juga netizen yang sengaja meminta saya untuk mengulas tempat makan miliknya. Satu per satu permintaan itu saya turuti dan mereka senang tempat usahanya diulas oleh saya.

Karena senang, beberapa dari mereka bahkan menolak ketika saya hendak membayar, alias menggratiskan makanannya untuk saya. Bahkan ada pula yang memberikan saya “uang bensin”.

Jujur saya agak risih, karena saya tidak terbiasa dengan keadaan tersebut. Tapi saya terima juga dan saya anggap itu sebagai niat baik si pemilik usaha kuliner.

Dengan menjadi food vlogger amatiran, saya jadi banyak kenal pengusaha kuliner, utamanya di wilayah Parung dan Bogor.

Hubungan saya dengan mereka tak hanya sampai video selesai diunggah. Beberapa dari mereka bahkan masih menjalin komunikasi dengan saya sampai sekarang.

Tak jarang kami bertukar sapa setelah beberapa waktu tak ada kabar. “Mas Rio kemana aja, kapan kesini lagi,” begitu isi pesan WhatsApp dari salah satu pengusaha soto.

Di lain waktu, saya yang memulai mengirim pesan WA, “Pak De, hari ini buka gak? Kalau sempat nanti saya mau mampir yah, agak malam,” tanya saya pada salah satu penjual ketoprak di Parung.

Dari komunikasi yang terjalin, saya jadi mendapat cerita tentang suka duka menjalani usaha kuliner, termasuk juga soal strategi berjualan, cara memilih tempat dan masih banyak lagi.

Cerita-cerita mereka cukup menginspirasi. Sebab saya sebelumnya pernah membuka usaha kuliner, tapi semuanya gagal.

Pertengahan 2021 saya mengunggah video kuliner saya yang terakhir. Pandemi perlahan mereda dan saya kembali bekerja seperti sedia kala

Jujur, saya senang menjadi food vlogger. Saya bertemu dengan banyak orang, berkunjung ke beberapa tempat, mendengar banyak cerita, dan menambah teman.

Tapi saya sadar diri kalau saya tidak bisa fokus disana. Ada pekerjaan lain yang harus saya lakukan, pekerjaan yang memang jadi andalan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Karena untuk menjadi food vlogger, YouTuber, Tiktoker atau apapun namanya, membutuhkan konsistensi dalam menjalaninya, jika ingin sampai mendapatkan uang.

Dan saya belum sampai pada tahap itu. Karena awalnya saya cuma iseng-iseng, tidak dimaksudkan untuk menjadi profesi tetap.

Tapi kalau seandainya bisa menjadi profesi tetap, dalam arti saya mendapatkan penghasilan dari sana, enak banget hidup ini.

Bisa makan-makan, jalan-jalan, dapat banyak teman, terkenal dan punya uang banyak.

Tags: berita hari iniberita viralfood vloggerfypnex carlostanboy kunTikTokYouTube
Previous Post

Anomali Tinggal di Desa

Langit Kembar

Langit Kembar

Related Posts

Ayam Goreng Mataram
Alur

Ayam Goreng Mataram

6 Februari 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Twitter Youtube Instagram

© 2026 Semestakata

No Result
View All Result
  • Referensi
  • Alur
  • Buah Pikir

© 2026 Semestakata