semestakata
  • Referensi
  • Alur
  • Buah Pikir
  • Referensi
  • Alur
  • Buah Pikir
semestakata
No Result
View All Result

Ayam Goreng Mataram

Sepenggal cerita dari seorang pemilik warung makan tenda di Kota Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat.

by Admin
6 Februari 2026
Share on FacebookShare on Twitter

Semesta Kata – Awal 2014, sekitar bulan Januari-Februari, saya berkunjung ke Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), untuk urusan pekerjaan.

Saya berada di sana sekitar empat hari dan menginap di sebuah hotel kecil di Kota Mataram, tak jauh dari Kantor Gubernur NTB.

Satu malam, saya mencari makan ke luar. Karena baru pertama kali ke Mataram, saya tidak begitu tahu tempat makan disana.

Saya juga tidak hapal jalan-jalan di sana. Akhirnya saya memutuskan untuk mencari makan di dekat-dekat hotel saja.

Begitu melangkahkan kaki dari gerbang hotel, saya melihat warung tenda kaki lima pinggir jalan, tepat di seberang hotel yang saya inapi.

Karena perut sudah terlanjur lapar, dan saya juga enggan jalan jauh-jauh, akhirnya saya putuskan untuk makan di warung tenda itu.

Tempat makannya mirip-mirip pecel lele seperti di Jakarta. Menunya pun tak jauh-jauh dari ayam goreng dan ayam bakar.

Hanya saja duduknya lesehan, tidak seperti warung pecel lele pada umumnya yang menggunakan meja panjang beralaskan terpal dan kursi plastik.

Ketika duduk, seorang pria menghampiri saya. “Silakan, mau makan apa?” tanya dia pada saya sembari menyodorkan selembar kertas laminating berisi daftar makanan.

Saya langsung melihat deretan menu yang terpampang. Tanpa pikir panjang, saya langsung memesan menu ayam goreng.

Saya berpikir itu adalah menu yang paling umum. Dan kebetulan saya juga penyuka ayam goreng, terutama bagian paha dan paha bawah.

Ternyata pria yang menghampiri saya tadi adalah pemilik warung tenda tersebut. Sebut saja namanya Anto.

Setelah mencatat pesanan saya, Anto langsung memberikan pada salah satu anak buahnya, untuk segera membuat makanan pesanan saya.

Tak lama, Anto kembali menghampiri dan susuk tepat di depan saya. “Abang baru yah kesini?” tanya dia sambil tersenyum ramah.

“Iya betul, saya nginap di hotel itu,” ujar saya sambil menunjuk hotel yang terlihat dari sela-sela warung Anto.

“Asalnya dari mana bang?” tanyanya lagi.

Ilustrasi saya dan Anto ketika ngobrol di warung tendanya (Foto: Meta AI)

“Saya dari Jakarta, kebetulan kesini karena urusan pekerjaan,” jawab saya.

“Oh dari Jakarta,” timpal Anto dengan cepat.

Tak diduga, ternyata Anto juga orang Jakarta yang tengah merantau ke Lombok.

Tak butuh waktu lama, kami berdua langsung akrab. Mungkin karena sama-sama berasal dari Jakarta, jadi ada semacam ada keterkaitan daerah asal.

“Jakartanya dimana mas Anto?” tanya saya penasaran.

“Tanjung Priok. Abang dari mana?” ia bertanya balik.

“Saya dari Pulogadung. Mas Anto sejak kapan tinggal di Mataram,” saya makin penasaran.

“Ceritanya panjang bang,” tandas Anto.

Lalu cerita dimulai. Anto mengatakan, keberadaan dirinya di Lombok bermula ketika ia masih kecil, sekitar usia 8 tahun.

Kala itu Anto tinggal di daerah Tanjung Priok, dekat Pelabuhan. Satu hari, Anto kecil berantem sama kakak perempuannya.

Anto kesal. Dengan amarah yang memenuhi dada, ia pergi keluar rumah menuju pelabuhan. Bukan untuk kabur, ia hanya ingin bermain untuk meredakan amarahnya.

Ia lalu naik ke sebuah kapal yang sedang bersandar. Hal itu biasa dilakukan anak-anak seusianya disana.

“Pas lagi main di atas kapal, saya ketiduran,” kenang Anto.

Tanpa diduga, kapal tersebut mengangkat jangkar dan berlayar. Dalam lelap, Anto terbawa hingga ke tengah samudera.

Ketika terbangun dari tidurnya, langit sudah gelap. Angin berembus halus menerpa wajahnya. Anto berjalan menuju sisi kapal.

Ia kaget. Pandangannya gelap gulita. Tak ada lampu pelabuhan dan lampu rumah-rumah yang biasa ia lihat dari atas kapal yang tengah bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok.

Anto juga merasakan kapal tersebut tak diam, melainkan bergerak di atas air. Suara debur ombak yang pecah dihantam kapal pun terdengar dengan jelas.

Seketika ia menyadari kalau dirinya terbawa oleh kapal yang tengah berlayar menuju arah yang ia tidak ketahui.

“Saya langsung nangis kencang. Saya mau pulang,” tutur Anto.

Ilustrasi Anto kecil menangis ketika terbawa kapal laut (Foto: Meta AI)

Tangis Anto lalu di dengar oleh salah satu anak buah kapal (ABK). Ia tidak menyebut siapa namanya. Tapi kita sebut saja namanya Wawan.

Wawan kaget melihat ada seorang anak kecil, sendirian, di atas kapalnya. Kapal yang sudah terlanjur berlayar jauh, tak bisa putar balik untuk mengantarkan kembali Anto ke rumah.

Singkat cerita, Anto diangkat anak oleh Wawan. Ia lalu tinggal bersama Wawan di rumahnya di Pulau Kalimantan.

Saya lupa-lupa ingat, Anto sekolah atau tidak yah? Yang saya ingat, Anto bercerita, beranjak dewasa, ia bekerja serabutan.

Salah satunya ia pernah bekerja sebagai pencuci piring di salah satu rumah makan. Anto bekerja dengan giat dan cekatan.

Pemilik rumah makan itu senang dengan Anto. Ia juga cepat akrab dengan teman-temannya disana, yang usianya lebih tua darinya.

Sebagai pencuci piring, tempat kerja Anto tentu ada di dapur, berdekatan dengan tempat memasak.

Anto sesekali melihat temannya memasak. Ia juga banyak bertanya tentang bumbu dan hal lain yang berhubungan dengan masak memasak.

Perlahan, ia mengenali seluk-beluk tentang makanan dan cara mengolahnya. Sesekali ia juga diminta membantu juru masak disana. Disinilah Anto mulai mencintai dunia kuliner.

“Saya udah kayak asisten koki aja disana,” kata Anto.

Lama kelamaan ia dipercaya untuk memasak satu dua jenis makanan. Tak mengecewakan, Anto menunjukkan pada semua orang kalau dia mampu dan bisa memasak.

Alhasil, Anto dipercaya menjadi juru masak di rumah makan itu dalam usia belum sampai 20 tahun.

Ilustrasi Anto memasak di restoran tempatnya bekerja (Foto: Meta AI)

Merasa bekal pengetahuan memasaknya sudah mumpuni, Anto minta izin pada ayah angkatnya, Wawan, untuk pergi merantau.

Wawan memberikan izin dan restu pada Anto. Lalu berangkatlah ia merantau. Lagi-lagi saya lupa kemana saja ia pergi merantau.

Hanya saja, ia mengatakan kalau dirinya sempat pulang ke rumahnya di Tanjung Priok. Namun pergi kembali hingga akhirnya sampai ke Mataram dan membuka tenda warung makan disana.

Saya yang mendengar cerita Anto, terkesima campur takjub. Entah mengapa saya percaya dengan ceritanya.

Agak aneh memang. Padahal bisa saja dia mengarang itu semua di hadapan saya. Tapi lagi-lagi, entah mengapa saya percaya.

Dalam benak saya, kisah hidup Anto sungguh di luar dugaan. Selama ini saya mengira hal tersebut hanya bisa terjadi di dalam film. Tapi ternyata, kisah itu ada dan dialami oleh Anto.

Tak terbayang jika saya jadi Anto. Masih kecil harus menanggung nasib terbawa ke negeri seberang, jauh dari orang tua dan keluarga, karena satu keteledoran kecil.

Seandanya saat itu Anto tidak marah pada kakaknya, bisa jadi nasibnya tak seperti sekarang. Bisa jadi ia melewati banyak kenangan manis bersama keluarganya.

Namun, pengalaman yang menyedihkan sekaligus menakutkan itu justru membentuk diri Anto seperti sekarang ini.

Ia menjadi sosok yang tangguh, tidak cengeng dan berani menghadapi dunia sendirian. Sesuatu yang belum tentu bisa dilakukan oleh orang lain, termasuk saya.

Setelah tenggelam dalam cerita Anto, ayam goreng yang saya pesan, datang.

Anto langsung mempersilakan saya untuk makan dan pergi beranjak dari tempat duduknya. Ketika suapan pertama mendarat di rongga mulut saya,

“Ya Tuhan, enak banget ayam goreng ini,” gumam saya dalam hati.

Beneran, ayam goreng yang saya pesan rasanya sangat enak. Sepertinya saya belum pernah merasakan ayam goreng seperti ini sebelumnya.

Setelah makan, saya kembali ngobrol santai dengan Anto. Tapi bukan soal kisah hidupnya, tapi seputar usahanya.

Tak terasa dua jam berlalu. Saya dan Anto tenggelam dalam obrolan panjang, layaknya saudara jauh yang beru saja bertemu.

Setelah itu saya kembali ke hotel untuk beristirahat. Sialnya, saya lupa untuk meminta nomor kontak Anto.

Kalau saja saya memiliki nomor kontaknya, bisa jadi sampai sekarang saya masih menjalin komunikasi dengannya.

Dan jika ada kesempatan, saya akan kembali lagi ke Kota Mataram, Lombok, untuk bertemu dengan Anto dan merasakan kembali ayam goreng nikmat buatannya.

Tags: ayam gorenglombokmataramnusa tenggara barattanjung priok
Next Post

Anomali Tinggal di Desa

Admin

Admin

Related Posts

Menjadi Food Vlogger
Alur

Menjadi Food Vlogger

6 Februari 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Twitter Youtube Instagram

© 2026 Semestakata

No Result
View All Result
  • Referensi
  • Alur
  • Buah Pikir

© 2026 Semestakata